Pembahasan PTK

  1. A.            Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Penelitian tindakan kelas merupakan hasil adaptasi dari penelitian tindakan pada umumnya seperti research operasional yang biasa dilakukan pada dunia industri. Adaptasi menjadi penelitian tindakan kelas pertama kali dikenalkan oleh ahli psikolog sosial Amerika yaitu Kurt Lewin pada tahun 1946. Gagasan Lewin ini kemudian dikembangkan oleh ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robbin Mc Targgart, John Elliot, Dave Ebbutt dll.

Ada beberapa definisi tentang penelitian tindakan, diantaranya Elliot (1991)  menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan kajian tentang situasi sosial dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan di dalamnya. Seluruh prosesnya adalah telah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pengaruh menciptakan hubungan yang diperlukan antara evaluasi diri dan perkembangan profesional. Cogen dan Manion (1980), menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah intervensi skala kecil terhadap tindakan di dunia nyata dan pemeriksaan cermat terhadap pengaruh intervensi tersebut. Kemmis dan Targart (1988), menyatakan bahwa penelitian tindakan merupakan bentuk penelitian reflektif dan kolektif, yang dilakukan oleh pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik pendidikan dan praktik sosial mereka, serta pemahaman mereka terhadap praktik-praktik itu, dan terhadap situasi tempat dilakukannya praktik-praktik tersebut.

Berdasarkan ketiga definisi di atas maka dapat disarikan bakwa. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pendekatan untuk memperbaiki pendidikan melalui perubahan, dengan mendorong para guru untuk memikirkan praktik mengajarnya sendiri, agar kritis terhadap praktik tersebut, dan agar mau untuk mengubahnya. Terdapat beberapa makna yang dapat diambil dari pelaksanaan PTK di antaranya ialah :

1)     Hasil penelitian tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya.

2)     Penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang permasalahannya perlu dipecahkan sesegera mungkin, dan hasilnya dapat diterapkan/dipraktikkan sesegera mungkin juga.

PTK bukan hanya sekedar mengajar, melainkan mempunyai makna sadar dan kritis terhadap mengajar dan menggunakan kesadaran dirinya untuk siap adanya perubahan dan perbaikan pada proses pembelajarannya. PTK mendorong guru bertindak dan berfikir kritis dalam melaksakanan tugasnya secara profesional. Oleh karena itu secara teoritik tujuan pelaksanaan PTK sangat ideal yakni :

1)     Untuk menanggulangi masalah atau kesulitan dalam bidang pendidikan dan pengajaran.

2)     Untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja.

3)     Untuk melaksanakan program pelatihan dan jabatan guru.

4)     Untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran.

5)     Untuk meningkatkan interaksi pembelajaran.

6)     Untuk perbaikan suasana keseluruhan stakeholders pendidikan (Natawidjaya 1997).

Sedangkan manfaat yang dapat diambil dari pelaksanaan PTK ialah (1) secara teoretis dapat membantu guru untuk (a) mengembangkan ilmu pengetahuan, dan (b) menerapkan teori-teori pembelajaran bermakna, dan (2) secara praktis guru dapat (a) melakukan inovasi pembelajaran, (b) meningkatkan kemampuan reflektifnya dalam memecahkan permasalahan pembelajaran, (c) melatih mengembangkan kurikulum, serta (d) meningkatkan profesionalisme guru (Trimo, 2007).

Banyak manfaat yang dapat diambil dengan dilaksankannya Penelitian Tindakan Kelas. Mafaat utamanya adalah untuk meningkatkan proses dan hasil belajar di kelas. Permasalahan aktual yang ditemukan guru di kelasnya, melalui kegiatan ini dapat dipecahkan. Dilihat dari segi keuntungan, penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang ideal untuk dilakukan guru. Elliott (1991) mengungkapkan bahwa tujuan utama dari PTK ialah memperbaiki praktek pendidikan dan bukan menghasilkan ilmu baru. Melalui PTK permasalahan pembelajaran dapat dipecahkan. Disamping itu PTK merupakan penelitian yang dilaksanakan di kelas, sehingga guru tidak perlu meninggalkan tugasnya, dengan demikian guru dapat berperan ganda yaitu sebagai praktisi pendidik, juga sekaligus sebagai peneliti pendidikan. Hasil penelitian PTK dapat ditulis sebagai laporan penelitian. Laporan ini dapat berguna sebagai karya tulis guru. Lebih jauh lagi Hermansyah (2001) menjabarkan beberapa keuntungan yang dapat diperoleh guru melalui pelaksanaan PTK, antara lain (1) Guru menjadi peka dan tanggap terhadap dinamika pembelajaran, dan guru reflektif dan kritis terhadap kegiatan di kelasnya, (2) Guru dapat meningkatan kinerjanya lebih profesional, karena akan selalu melakukan inovasi yang dilandasi hasil penelitian, (3) Guru dapat memperbaiki tahapan-tahapan pembelajaran, melalui kajian aktual yang muncul di kelasnya, (4) Tuga utama guru tidak terganggu karena PTK terintegrasi dengan pembelajaran yang dilakukan dikelasnya, (5) Guru menjadi kreatif karena dituntut untuk melakukan inovasi.

  1. B.         Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian tindakan kelas memiliki perbedaan dengan penelitian lainnya. PTK merupakan penelitian terapan, dimana hasilnya diterapkan sebagai pengalaman praktis. Ada yang menyebutkan bahwa PTK mempunyai ciri seperti penelitian kualitatif dan eksperimen. Dikatakan kualitatif karena datanya tidak memerlukan perhitungan secara statistik, sedangkan dikatakan penelitian eksperimental karena diawali dengan perencanaan, perlakuan terhadap subjek penelitian, dan adanya evaluasi hasil yang dicapai setelah perlakuan serta dilakukan validasi hipotesis tindakan. Winter menyebutkan 6 karakteristik PTK yaitu :

1)     Kritik refleksif; adalah adanya upaya evaluasi atau penilaian yang didasarkan catatan data yang telah dibuat, sehingga dapat ditransformasikan menjadi pertanyaaan dan alternatif yang mungkin dapat disarankan.

2)     Kritik dialektis; adalah adanya kesediaan peneliti untuk melakukan kritik pada fenomena yang ditelitinya. Dalam hal ini guru perlu menafsirkan data dengan konteks yang harus ada, menganalisis katagori yang berbeda untuk menemukan kesamaan, dan menangkap isyarat bahwa fenomena akan dapat berubah.

3)     Kolaboratif; adalah adanya kerjasama (atasan, sejawat, siswa dll), yang dapat dipergunakan sebagai sudut pandang. Peneliti dalam PTK adalah bagian dari situasi yang diteliti, peneliti sebagai pengamat juga terlibat langsung dalam proses situasi tersebut. Kolaborasi pada anggota dalam situasi itu yang memungkinkan proses itu berlangsung. Untuk menjamin kolaborasi perlu mengumpulkan semua sudut pandang anggota yang menggambarkan struktur situasi yang diteliti. Tetapi perlu diingat bahwa peneliti mempunyai kewenangan dalam penelitian, sehingga tidak mutlak semua pandangan harus digunakan.

4)     Resiko adalah adanya keberanian peneliti untuk mengambil resiko pada waktu berlangsungnya penelitian. Resiko yang mungkin muncul adalah melesetnya hipotesis, dan kemungkinan tuntutan untuk melakukan transformasi. Peneliti mungkin berubah pandangannya, karena melihat sendiri pertentangan yang ada.

5)     Struktur majemuk adalah adanya pandangan bahwa penelitian ini mencakup berbagai unsur yang terlibat, agar bersifat komprehensif. Misal jika penelitian pada pengajaran, maka situasinya harus mencakup guru, murid, tujuan pembelajaran, interaksi kelas, hasil dll.

6)     Internalisasi teori dan praktik; adalah adanya pandangan bahwa teori dan praktik bukan dua hal yang berbeda, tetapi merupakan dua tahap yang berbeda, yang saling tergantung, dan keduanya berfungsi untuk mendukung transformasi (Sunendar, 2008).

Sudut pandang lain seperti pandanga Rustam dan Mundilarto (2004) bahwa karakteristik dasar dari PTK ialah :

1)     Masalah berawal dari guru.

2)     Bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran.

3)     Metode utama ialah refleksi diri dengan tetap mengikuti kaidah-kaidah penelitian.

4)     Fokus penelitian tetap kepada kegiatan pembelajaran.

5)     Guru bertindak sebagai pengajar sekaligus peneliti.

Karakteristik-karakteristik di atas menggambarkan terdapat perbedaan antara PTK dengan penelitian lainnya. Sedangkan sasaran dan obyek PTK meliputi komponen-komponen dari sebuah kelas yakni :

  1. Siswa

Permasalahan tentang siswa misalnya perilaku kedisiplinan, keseriusan siswa saat mengerjakan tugas, kebiasaan siswa dalam mengajukan atau menjawab pertanyaan dsb.

  1. Guru

Permasalahan yang berkenaan dengan guru misalnya metode mengajar yang bervariasi, metode diskusi terarah, mengajar berkelompok, dsb.

  1. Materi pelajaran

Topik yang dapat diangkat dalam PTK yang berhubungan dengan materi pelajaran misalnya urutan materi, pengorganisasian materi, cara penyajiannya, menambah sumber bahan untuk penguasaan materi, dsb.

  1. Unsur peralatan atau sarana pendidikan

Masalah-masalah yang berkenaan dengan peralatan yang dapat diangkat menjadi topik PTK di antaranya ialah penyediaan alat, peralatan individu dan kelompok; penertiban penggunaan alat, dsb.

  1. Unsur hasil pembelajaran

Topik PTK yang berkenaan dengan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran yaitu berkaitan dengan proses pembelajaran.

  1. Unsur lingkungan

Topik PTK yang berkenaan dengan lingkungan misalnya mengubah situasi ruang kelas; penataan sekolah; penataan lingkungan, dsb.

  1. Unsur pengelolaan

Topik PTK yang berkenaan dengan pengelolaan misalnya pengaturan tempat duduk siswa; penempatan peralatan milik siswa; pengaturan urutan jadwal, dsb.

 

  1. C.         Model Penelitian Tindakan Kelas

Ada beberapa model penelitian tindakan kelas yang sudah dikenal masyarakat profesi guru, antara lain :

1)          Model Kurt Lewin

Model Kurt Lewin menggambarkan bahwa dalam siklusnya terdapat empat langkah yaitu planning (perencanaan), acting (tindakan), observing (pengamatan), dan refelecting (refleksi).

2)          Model Kemmis dan Targart

Model Kemmis dan Targart merupakan pengembangan dari model Kurt Lewin. Model ini juga menggunakan 4 langkah tersebut, hanya saja sesudah suatu siklus diimplementasikan, kemudian diikuti dengan Replanning (perencanan ulang). Demikian seterusnya satu siklus diikuti oleh siklus berikutnya, hingga permasalahan terpecahkan.

3)          Model John Elliott

Sedangkan model John Elliott lebih komplek dan detil. Dalam tiap siklus memungkinkan terdiri dari beberapa tindakan dan setiap tindakan memungkinkan terdiri dari beberapa langkah.

Secara sederhana kita akan menggunakan model Kemmis dan Targart, karena model ini yang lebih mudah dan praktis. Secara skematis model Kemmis dan Targart ditampilkan pada Gambar 1.

 

Gambar 1. Model siklus dalam PTK

(Sumber: Arikunto et al., 2008)

  1. D.         Tahapan Palaksanaan Penelitian Tindakan Kelas

Seperti disebutkan di atas bahwa pada dasarnya PTK terdiri dari 4 langkah yaitu planning (perencanaan), acting (tindakan), observing (pengamatan), dan reflecting (refleksi). Namun sebelum memasuki langkah-langkah tersebut terdapat tahapan-tahapan pra-PTK, yaitu (1) Identifikasi masalah, (2) Rumusan masalah, (3) Analisis masalah, dan (4) Rumusan hipotesis tindakan.

Permasalahan yang perlu dipecahkan dalam PTK adalah masalah praktis yang dirasakan dan teridentifikasi oleh peneliti sendiri, yakni sebagai kesenjangan dalam pencapaian kinerja yang perlu segera dipecahkan untuk memperbaiki kinerja (Liliasari, 2008). Menurut Arikunto et al. (2008) sifat-sifat masalah dalam PTK adalah sebagai berikut:

  1. Masalah harus realistis, artinya masalah yang akan diajukan ialah sesuatu yang memang dirasakah sebagai masalah yang sebenarnya terjadi;
  2. Masalah harus problematik atau perlu dipecahkan.
  3. Masalah harus meaningful (nilai penting jangka pendeknya jelas);
  4. Masalah harus feasible (dapat dipecahkan).

Tidak semua masalah yang riil, problematik, meaningful dapat dipecahkan karena misalnya tidak ada dana atau alat, tidak cukup waktu, tidak didukung pembuat kebijakan, atau memiliki banyak faktor penghambat dan sebagainya. Demikian juga seb aliknya, bahwa meskipun masalah tersebut feasible tapi tetap harus ditelusuri terlebih dahulu karena mungkin saja masalah yang bersangkutan sudah ada yang membahas dan memecahkannya. Demikian juga dengan masalah-masalah yang muncul di luar tanggung jawab peneliti atau masalah yang akan dicari jawabannya tidak memiliki manfaat yang jelas adalah bukan masalah yang dapat diangkat dalam PTK.

Masalah-masalah yang teridentifikasi tersebut kemudian dilakukan focusing dengan cara memilih dan memilah masalah ke dalam masalah utama dan penunjang untuk disusun dalam suatu rumusan masalah. Rumusan masalah bisa dalam bentuk narasi ataupun dalam bentuk pertanyaan.

Selanjutnya permasalahan perlu dianalisis untuk mengetahui dimensi-dimensi problem yang mungkin ada untuk mengidentifikasi aspek pentingnya dan untuk memberikan penekanan yang memadai. Demikian juga dengan hipotesis. Hipotesis dalam PTK bukan hipotesis perbedaan atau hubungan seperti pada penelitian pada umumnya, melainkan hipotesis tindakan yang berisi usulan solusi untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan yang didasarkan pada teori.

Untuk memandu ke arah PTK, beberapa pertanyaan berikut dapat dijadikan pedoman untuk mendapatkan sekuen ke arah identifikasi masalah, rumusan masalah, analisis masalah, dan perumusan hipotesis tindakan, yaitu:

  1. Apa yang menjadi kesenjangan pada fenomena pembelajaran di kelas? Mengapa hal ini terjadi dan apa sebabnya ?
  2. Bukti apa yang dapat dikumpulkan untuk menunjukkan fakta dalam mengatasi kesenjangan itu?
  3. Bagaimana cara mengumpulkan bukti-bukti itu?
  4. Apa yang dapat dilakukan dan bagaimana cara mengatasi kesenjangan itu?

Apabila tahap pra-PTK sudah dilakukan dengan baik, maka dilanjutkan ke tahapan PTK sebenarnya. PTK merupakan refleksi guru pada permasalahan yang dihadapi di kelasnya. Dari sinilah penelitian tindakan kelas akan dilakukan. Adapun langkah-langkah PTK sebenarnya adalah sebagai berikut:

a)          Planning (perencanaan)

Rencana tindakan mencakup semua langkah tindakan sbb:

1)          Apa yang diperlukan untuk menentukan kemungkinan terpecahkannya masalah yang telah dirumuskan.

2)          Alat-alat dan teknik yang diperlukan untuk mengumpulkan data/ informasi.

3)          Rencana perekaman/pencatatan data dan pengolahannya.

4)          Rencana untuk melaksanakan tindakannya dan mengevaluasi hasilnya.

Dalam hal ini perlu dilakukan pemilihan prosedur penelitian, dan prosedur pemantauan atau evaluasi. Semua keperluan dalam pelakanaan penelitian, mulai dari materi, recana pembelajaran, instrumen observasi dll. harus dipersiapkan dengan matang pada tahap ini. Pada tahapan ini perlu diperhitungkan bahwa kemungkinan tindakan sosial akan mengandung resiko, sehingga rencana ini harus fleksibel sehingga nantinya memungkinkan untuk diadaptasikan.

b)          Acting (tindakan)

Tindakan yang dimaksud adalah implementasi dari semua rencana yang telah dibuat, dan biasanya berlangsung di dalam kelas. Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru tentu saja sesuai dengan skenario yang telah disusun dalam rencana pembelajaran.

c)          Observing (pengamatan)

Observasi dilakukan terhadap proses tindakan, pengaruh tindakan, keadaan dan kendala tindakan, dan persoalan lain yang terkait. Observer mengumpulkan data-data dengan menggunakan instrumen atau alat lainnya yang telah dibuat secara valid. Pelaksanaan observasi tidak harus dilakukan oleh guru sendiri, tetapi melibatkan kolaborator (guru lain). Hanya saja pengamat/kolaborator tersebut jangan sampai melakukan intervensi pada roses pembelajaran yang sedang dilaksanakan.

d)          Refelecting (refleksi)

Refleksi adalah mengingat atau merenung kembali pada tindakan yang telah dilakukan, dan dicatat dalam observasi. Dalam hal ini perlu untuk dipahami proses, permasalahan, dan kendala yang nyata dari tindakan yang telah dilakukan. Pada proses refleksi ini, semua data dan catatan dari kolaborator dianalisis, untuk menentukan apakah hipotesis tindakan telah tercapai, atau untuk menentukan perencanaan kembali ke siklus berikutnya. Bila hipotesisi tindakan belum tercapai, maka PTK dilanjutkan ke siklus berikutnya.

 

  1. E.            Beberapa Syarat Untuk Keberhasilan PTK

Tujuan PTK adalah mengubah perilaku pengajaran guru, perilaku murid-murid di kelas, dan/atau mengubah kerangka kerja pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dengan kata lain PTK dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru pembelajaran dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang kelas. Berdasarkan tujuan PTK tersebut maka keberhasilan tindakan perbaikan pembelajaran melalui PTK sangat tergantung   pada komitmen seluruh komponen pembelajaran baik guru, murid maupun kolaborator. Hal tersebut merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk keberhasilan PTK. Menurut Hodgkinson (1988) terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk keberhasilan PTK, diantaranya ialah (1) kesediaan untuk mengakui kekurangan diri; (2) kesempatan yang memadai untuk menemukan sesuatu yang baru; (3) dorongan untuk mengemukakan gagasan baru; (4) waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan; (5) kepercayaan timbal balik antar orang-orang yang terlibat; dan (6) pengetahuan tentang dasar-dasar proses kelompok oleh peserta penelitian.

Persyaratan tersebut tampaknya sejalan dengan rumusan Mc Niff, Lomax dan Whitehead (2003) bahwa untuk keberhasilan PTK terutama dalam ranah implementasi hasil penelitian terdapat sepuluh persyaratan yang harus dipenuhi (Madya, 2008). Kesepuluh persyaratan tersebut ialah sebagai berikut:

  1. Guru dan kolaborator serta murid-murid harus punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional. Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang jelas dalam melakukan intervensi tersebut.
  2. Guru dan kolaborator menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung jawab atas peningkatan yang akan dicapai.
  3. Tindakan yang dilakukan oleh guru hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoritis, maupun pengetahuan teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan, berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.
  4. Refleksi kritis dapat dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri. Tindakan  tersebut dilakukan  atas  dasar komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan.
  5. Penelitian tindakan melibatkan seluruh komponen pendidikan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya.
  6. Guru mesti mamantau secara sistematik agar guru mengetahui dengan mudah arah dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi.
  7. Guru perlu membuat deskripsi otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam riwayat faktual, perekaman video audio, riwayat subjektif yang diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat fiksional.
  8. Guru perlu memberi penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas, yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu) wawasan teoretik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama penjelasannya; (2) mempermasalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (3) teorisasi, yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan dengan cara tertentu.
  9. Guru perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk (1) tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog, yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (2) percakapan tertulis, yang dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (3) narasi dan cerita; dan (4) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik.
  10. Guru perlu memvalidasi pernyataan Guru tentang keberhasilan tindakan Guru lewat pemeriksaan kritis dengan mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri maupun bersama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk memeriksanya dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi sejawat), dan menyajikan hasil dalam suatu seminar (validasi public). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.

 

  1. F.            Penyusunan Proposal Penelitian Tindakan Kelas

Proposal Penelitian Tindakan Kelas pada prinsipnya adalah sama dengan proposal penelitian ilmiah lainnya yakni berisi :

a)          Judul penelitian

Judul yang baik ditulis dengan singkat dan spesifik. Judul yang baik tidak akan menimbulkan tafsiran ganda yang berbeda-beda, dapat menggambarkan masalah yang akan diteliti dan menunjukkan langkah pemecahan permasalahan. Ruang lingkup penelitian PTK dapat mengacu kepada beberapa topik kajian seperti berikut ini :

1)     Pembelajaran di kelas, misalnya dalam hal cara mengajar guru, cara belajar siswa, proses pembelajaran, bahan ajar dll.

2)     Desain dan strategi pembelajaran di kelas, misalnya dalam hal pengelolaan dan prosedur model-model pembelajaran, implementasi dan inovasi metode pembelajaran, interaksi dan komunikasi di dalam kelas dll

3)     Alat bantu, media dan sumber belajar baik elektronik maupun non-elektronik, misalnya dalam hal penggunaan media, perpustakaan, sumber belajar di dalam/di luar kelas dll.

4)     Sistem evaluasi pembelajaran, misalnya dalam hal evaluasi awal, proses dan akhir pembelajaran, pengembangan instrumen evaluasi berbasis kompetensi, portofolio dll.

5)     Implementasi kurikulum dalam pembelajaran, misalnya dalam hal misalnya dalam hal implementasi KTSP, pengembangan silabus, pengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran dll.

b)          Pendahuluan

Berisi hal-hal yang melatar belakangi perlunya penelitian dilakukan. Pada prinsipnya menggambarkan kondisi yang terjadi dibandingkan dengan kondisi yang diharapkan, permasalahan yang terjadi, pentingnya masalah tersebut untuk diteliti, dan manfaat yang diharapkan dari temuan penelitian.

c)          Perumusan masalah

Perumusan masalah dapat dikemukakan dalam kalimat naratif berupa pernyataan ataupun kalimat pertanyaan yang problematik. Apabila dinyatakan dalam bentuk pernyataan, biasanya dikemukakan melalui tahapan-tahapan diagnosis permasalahan, terapi yang digunakan untuk memecahkan masalah dan gambaran keberhasilan atau keefektifan tindakan. Sedangkan dalam bentuk pertanyaan biasanya langsung menyusun daftar pertanyaan sebagai permasalahan penelitian (research question).

d)          Tujuan penelitian

Tujuan penelitian menggambarkan semua unsur yang terkait dengan harapan-harapan yang dilandasi oleh adanya kondisi riel yang perlu ditingkatkan.

e)          Manfaat penelitian

Pada PTK penelitian tentu saja akan memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan maupun manfaat praktis seperti manfaat untuk sekolah, peneliti, dan subjek yang diteliti. Penelitian tindakan pada umumnya adalah penelitian terapan sehingga manfaatnya lebih besar pada manfaat praktis, misalnya bermanfaat pada peningkatan kualitas dan daya saing anak didik.

f)            Kajian pustaka dan hasil penelitian yang relevan

Pada bagian ini dijelaskan landasan keilmuan yang terkait dengan konteks pemecahan permasalahan. Sedapat mungkin di usahakan agar mempertimbangkan kemutakhiran, dan relevansi bahan pustaka. Di akhir bagian ini biasanya dirumuskan kerangka berfikir yang dilanjutkan dengan rumusan hipotesis tindakan. Alasan penyatuan kerangka pikir penelitian dan hipoteisis tindakan dalam Bab Kajian Pustaka adalah atas pendapat bahwa kerangka pikir penelitian maupun hipotesis tindakan didasarkan pada teori maupun hasil penelitian yang relevan. Namun demikian ada pula yang berpendapat bahwa Kerangka Pikir Peneitian maupun Hipotesis Tindakan dibuat dalam bab tersendiri.

 

 

 

g)          Kerangka pikir penelitian

Kerangka berfikir dapat dibuat seperti diagram alur dari mulai kondisi eksisting dengan berbagai permasalahannya, proses perbaikan yang diusulkan peneliti, dan diakhir dengan goal penelitian yaitu kondisi yang sangat diharapkan oleh peneliti.

h)          Hipotesisi tindakan

Masalah-masalah penelitian perlu mendapat jawaban. Jawaban atas masalah penelitian didapatkan berdasarkan teori-teori yang ada. Namun jawaban tersebut adalah masih bersifat sementara. Jawaban sementara tersebut disebut juga dengan hipotesis. Kemudian untuk memastikan kebenaran dari hipotesis atau jawaban sementara tersebut maka perlu dibuktikan atau diuji dengan data yang didapat dari penelitian.

Atas dasar hal tersebut di atas, hipotesis dapat didefinisikan sebagai jawaban sementara atas permasalahan penelitian yang perlu diuji kebenarannya melalui penelitian. Perlu ditekankan di sini bahwa hipotesis dalam PTK bukan hipotesis perbedaan atau hubungan seperti pada penelitian pada umumnya, melainkan berisi usulan solusi atau tindakan untuk menghasilkan perbaikan yang diinginkan yang didasarkan pada teori.

Dalam upaya mencapai perumusan hipotesis tindakan yang tepat maka peneliti perlu melakukan (1) kajian teori pembelajaran dan teori pendidikan, (2) kajian hasil penelitian yang relevan, (3) diskusi dengan pakar, peneliti atau sejawat, dan (4) kajian hasil pengalaman guru dalam pembelajaran. Setiap alternatif tindakan solusi yang diusulkan perlu dikaji  dan dievaluasi dari segi prosedurnya, kelaikan, kemudahan, kepraktisan, cara penilaiannya serta estimasi hasilnya. Apabila hasil evaluasi terhadap hipotesis tindakan tersebut memungkinkan untuk dilakukan serta estimasi hasilnya pun akan sangat memperbaiki proses maupun hasil pembelajaran, maka hipotesis tindakan tersebut layak untuk diuji melalui Penelitian Tindakan Kelas.

i)             Metode penelitian

1)     Dalam baba metode penelitian dituliskan secara jelas dan rinci tentang: setting waktu dan lokasi penelitian, disini dituliskan identitas sekolah dan kondisi subjek   yang diteliti serta kapan dan pada siswa semester berapa penelitian dilakukan.

2)     Subjek yang terlibat sebagai peneliti, kolaborator atau participan.

3)     Alat-alat dan teknik pengumpulan data.

4)     Rencana tindakan, yaitu langkah yang ditempuh dalam upaya menyelesaikan masalah penelitian. Dalam bagian ini dijelaskan pula berapa siklus penelitian tindakan akan dilakukan serta bagaimana mengimplementasikannya dalam setiap langkah dari masing-masing siklus tersebut.

5)     Jenis dan sumber data.

6)     Teknik pengumpulan data, teknik analisa data.

7)     Kriteria, indikator evaluasi dan refleksi.

j)             Personalia Penelitian

Berisi identitas tim peneliti. Disertakan pula kurikulum vitae yang menunjukkan bidang keahlian dan latar belakang yang relevan dengan penelitian yang dilaksanakan. Disamping itu perlu juga dirinci nama, tugas dan volume kerja.

k)          Rencana Pembiayaan Penelitian

Meliputi jenis pengeluaran dan besarnya nilai biaya yang dikeluarkan. Biaya secara garis besarnya meliputi biaya persiapan, biaya operasional, dan biaya pelaporan.

l)             Jadwal rencana kerja

Jadwal kerja menggambarkan waktu pelaksanaan penelitian. Ini diawali dari penysunan proposal hingga pelaporan. Biasanya jadwal kerja disusun dalam metrik.

m)        Daftar pustaka

Daftar pustaka berisi semua rujukan yang digunakan dalam penyusunan proposal. Pustaka yang diacu didalam isi tercantum dalam daftar pustaka, demikian pula pustaka yang ada di dalam daftar pustaka tercantum sebagai sumber acuan di bagian isi. Daftar pustaka dapat disusun berdasarkan urutan alfabet nama penulis yang dirujuk.

n)          Lampiran

Berisi semua pendukung yang diperlukan seperti instrumen yang digunakan, kurikulum vitae peneliti dll.

  1. G.         PENYUSUNAN LAPORAN HASIL PTK

Laporan hasil penelitian adalah dokumen ataupun bukti bahwa suatu penelitian telah dilakukan. Laporan sangat berguna untuk bahan acuan penelitian lanjutan ataupun sebagai pedoman bagi pelaksanaan (implementasi) tindakan kelas oleh guru yang relevan.

Laporan hasil penelitian pada prinsipnya adalah kelanjutan dari proposal. Sebagaian besar isi laporan adalah sama dengan proposal, hanya ditambahkan abstrak, hasil penelitian, dan kesimpulan serta saran. Pada laporan hasil PTK sering terjadi pengadaptasian, sehingga memungkinkan ada perubahan sistematika. Adapun susunan atau sistematika laporan hasil PTK secara umum adalah sebagai berikut:

  1. a.           Bagian Awal, dapat terdiri atas:

 

1) Halaman Sampul

Sampul bertuliskan judul laporan, peneliti dan instansi peneliti, serta kota dan tahun penulisan laporan.

2) Halaman Pengesahan

Halaman pengesahan berisi judul penelitian, nama peneliti, tanggal pengesahan, dan tandatangan yang mengesahkan.

3) Abstrak

Abstrak merupakan sari  dari isi laporan yang disajikan secara sederhana sehingga dapat merangsang pembaca untuk membaca isi laporan lebih lanjut. Isi abstarak meliputi judul, tujuan, metode, dan hasil penelitian.

4) Kata Pengantar

Kata Pengantar berisi kata-kata hantaran tentang isi laporan penelitian, serta ucapan terima kasih kepada pihak yang membantu pelaksanaan maupun penyelesaian penelitian.

5) Daftar Isi

Berisi daftar nama bab dan sub bab beserta halaman yang memuat bab dan sub bab tersebut.

  1. b.          Bagian Batang Tubuh (Inti) Laporan,  dapat terdiri atas:


Bab I. PENDAHULUAN

a. Latar Belakang

b. Rumusan Masalah

c. Tujuan Penelitian

d. Manfaat Penelitian

Bab II. KAJIAN PUSTAKA

a. Tanjauan kepustakaan

b. Kerangka berfikir

c. Hipotesis tindakan

Bab III. METODE PENELITIAN

a. Seting penelitian

b. Subjek penelitian

c. Alat-alat pengumpulan data

d. Rencana tindakan

e. Jenis dan sumber data

f. Teknik pengumpulan data

g.Teknik analisa data

h. Kriteria evaluasi dan refleksi

Bab IV. HASIL PENELITIAN

Bab ini menguraikan hasil dan temuan-temuan penelitian. Tampilan dalam bab ini dapat dilengkapi dengan gamabar-gambar atau grafik dan tabel-tabel. Bab hasil penelitian dapat dibagi ke dalam beberapa sub bab sesuai dengan jumlah permasalahan yang didapatkan dari hasil penelitian.

Bab V. PENUTUP

  • Kesimpulan

Kesimpulan merupakan inti sari hasil penelitian maupun  temuan-temuan. Tampilan dapat dibuat dengan cara pemberian nomor kesimpulan sesuai dengan jumlah hasil temuan penelitian atau dapat dibuat dalam beberapa kalimat atau alinea.

  • Saran

Saran merupakan usulan yang dapat diterapkan untuk memperbaiki proses dan hasil pembelajaran. Saran hendaknya didasarkan pada hasil dan atau temuan penelitian.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s