Pembahasan kurikulum

2.1 Pengertian Kurikulum

Secara etimologis, kurikulum merupakan terjemahan dari kata ccurriculum dalam bahasa inggris yang berarti rencana pelajaran ( Echols, 1984 ). Kurikulum dalam bahasa Latin mempunyai kata akar “curere”. Kata ini bermaksud “laluan”atau “jejak”. Secara yang lebih luas pula maksudnya ialah “jurusan” seperti dalam rangkai kata jurusan peperangan. Perkataan kurikulum dalam bahasa Inggris mengandungi pengertian “jelmaan” atau “metamorphosis”. Paduan makna kedua-dua bahasa ini menghasilkan makna bahawa perkataan kurikulum ialah “laluan dan satu peringkat ke satu peningkat”. Perluasan makna ini memberikan pengertian kurikulum dalam perbendaharaan kata pendidikan bahasa Inggeris sebagai jurusan pengajian yang diikuti di sekolah ( Kliebard, 1982 ). Dalam kamus Webster’s ( 1857 ) kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa untuk mendapatkan ijazah atau naik kelas.

Secara Umum kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang di ajarkan disekolah. Kurikulum juga diartikan sebagai suatu rencana yang sengaja dirancang untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. Pengertian kurikulum menurut para pakar pendidikan sebagai berikut :

  1. Franklin Bobbt (1918)

Kurikulum adalah susunan pengalaman belajar terarah yang digunakan oleh sekolah untuk membentangkan individual anak didik

  1. Hollins Caswell (1935)

Kurikulum adalah susunan pengalaman yang digunakan guru sebagai proses dan prosedur untuk membimbing anak didik menuju kedewasaan

  1. Ralph Tyler (1857)

Kurikulum adalah susunan pengalaman belajar yang direncanakan dan diarahkan oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan.

 

  1. Robert Gagne (1967)

Kurikulum adalah suatu rangkaian unit materi belajar yang disusun sedemikian rupa sehingga anak didik dapat mempelajarinya berdasarkan kemampuan yang dimilikinya

  1. Michael Schiro (1978)

Kurikulum adalah sebagai proses pengembangan anak didik yang diharapkan terjadi dan digunakan dalam perencanaan

Jadi Kurikulum merupakan suatu rencana pendidikan, memberikan pedoman dan pegangan tentang urutan isi, serta proses pendidikan.

Dalam kajian tentang pengertian kurikulum dikalangan praktisi pendidikan dan pakar terdapat banyak persepsi tentang pemahaman kurikulum. Beberapa pemahaman tersebut adalah :

  1. Kurikulum dipandang sebagai suatu bahan tertulis yang berisi uraian tentang program pendidikan suatu sekolah yang harus dilaksanakan dari tahun ke tahun.

 

  1. Kurikulum dilukiskan sebagai bahan tertulis untuk digunakan para guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.

 

  1. Kurikulum adalah suatu usaha untuk menyampaikan asas – asas dan ciri – ciri yang penting dari suatu rencana dalam bentuk yang sedemikian rupa sehingga dapat dilaksanakan guru disekolah.

 

  1. Kurikulum diartikan sebagai tujuan pengajaran, pengalaman belajar, alat-alat pelajaran dan cara-cara penilaian yang direncanakan  dan digunakan dalam pendidikan.

 

  1. Kurikulum dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu.

Dalam beberapa pendapat tersebut maka pemahaman tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu :

1)      Memandang kurikulum sebagai suatu rencana atau bahan tertulis yang dapat dijadikan pedoman bagi para guru disekolah.

2)      Memandang kurikulum sebagai program yang direncanakan dan dilaksanakan dalam situasi yang nyata dikelas.

 

Didalam  UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Pengertian dasar kurikulum tersebut, terdapat fungsi dari kurukulum, dan fungsi kurikulum ditinjau dari tiga segi :

  1. Fungsi bagi sekolah yang bersangkutan

Sebagai alat untuk mencapai seperangkat tujuan pendidikan, Ada dua macam fungsi kurikulum bagi sekolah yang bersangkutan, yaitu :

  • Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan
  • Dijadikan pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan yang dilaksanakan disekolah.
  1. Fungsi bagi sekolah tingkat diatasnya

Kurikulum dapat berfungsi sebagai pengontrol atau pemelihara keseimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada  tingkat tertentu, maka kurikulum pada tingkat diatasnya dapat mengadakan penyesuaian. Misalnya : Jika suatu bidang study telah diberikan pada kurikulum sekolah ditingkat bawah, harus dipertimbangkan lagi pemilihanya pada kurikulum ditingkat atas terutama dalam hal pemilihan bahan pengajaran. Penyesuaian bahan tersebut dimaksudkan untuk menghindari keterulagan penyampaian yang bisa berakibat pemborosan waktu dan lebih penting lagi adalah untuk menjaga kesinambungan bahan pengajaran itu.

  1. Fungsi bagi masyarakat

Pada umumnya sekolah mempersiapkan siswa untuk terjun dimasyarakat atau tegasnya untuk bekerja dengan keterampilan profesi yang dimilikinya. Oleh karena itu, kurikulum sekolah haruslah mengetahui atau mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat. untuk itu perlu kerja sama antara pihak sekolah dengan pihak luar dalam hal pembenahan kurikulum yang diharapkan.

Kurikulum resmi sebenarnya merupakan sesuatu yang diidentifikasikan atau dicita-citakan, karena itu kurikulum memiliki fungsi sebagaimana yang diungkapkan oleh Alexander Inglish, sebagai berikut:

  1. The ajustive of adaptive function (Fungsi penyesuaian)
  2. The integrating function (Fungsi pengintegrasian)
  3. The differentiating function (fungsi diferensial)
  4. The prepaedetic function (fungsi persiapan)
  5. The selective function (fungsi pemilihan)
  6. The diagnostic function (Fungsi diagnostik)

2.2 Landasan Kurikulum

Ada empat landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum:

1)      Landasan filisofis/ yuridis

 

Sistem nilai/pandangan hidup yang di anut oleh suatu masyarakat. Pancasila adalah pandangan dan falsafa hidup bangss indonesia. nilai dari yang tercantum dalam sila pancasila harus dapat menjiwai setiap arah pengembangan kurikulum.

Landasan filisofil diterjemahkan lebih rinci dalam landasan yurudis sebagaimana termuat dalam UU No. 20 tahun 2003. Ada beberapa konsepsi isi kurikulum di dalam undang-undang tersebut.

 

  1. Pendidikan

Adalah sustu upaya, usaha atau yang memiliki tujuan.

  1. Kegiatan pendidikan

Dalam kegiatan pendidikan itu terdapat suatu rencana yang disusun dan diatur.

  1. Rencana

Rencana tersebut dilaksanakan di sekolah melalui cara-cara yang telah ditetapkan.

 

 

 

2)      Psikologis

 

Landasan psikologis ini dimaksudkan bahwa dalam penyusunan kurikulum  patut diperhatikan hal-hal yang berkenan dengan karakteristik peserta didik. Karakteristik peserta didik dalam realitasnya sangatlah beragam dan memiliki tingkat perkembangan karakteristik yang berbeda setiap jenjang pendidikannya. Nilai manfaatnya bagi perkembangan dan kemajuan peserta didik perlu diperhatikan dalam penyusunan kurikulum.

 

 

3)      Sosiologis

 

Pendidikan tidak justru mengasingkan individu dengan lingkungannya, secara sosiologis lembaga pendidikan sebenarnya dibentuk oleh masyarakat, dihidupi masyarakat,dan oleh karena itu, iya harus memberikan kemanfaatan kepada masyarakat. Kurikulum harus sesuai kebutuhan masyarakat.

 

4)      Organisatoris

 

Dalam perumusan kurikulum perlu disusun suatu disain yang tepat dan fungsional. Disain yang tepat mampu membawa perubahan yang positif, makin tepat dan makin fungsional kurikulum maka dalam pelaksanaanya akan memberi efektifitas dari keberadaan kurikulum.

 

2.3 Pendekatan Kurikulum

            Kurikulum yang di kembangkan di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami metamorphosis. Hal ini bisa di amati dari pendekatan yang di gunakannya, yakni dari subject matter oriented, objective oriented, hingga competencies based curriculum. Pedekatan yang terakhir inilah yang kemudian di kembangkan di Indonesia sejak tahun 2004 dan kemudian di kembangkan lagi menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan yang di gunakan pada tahun 2006. Sebagai sebuah kajian penting dalam kajian pendidikan, penjelasan tentang kurikulam berbasis kompetensi menjadi penting artinya untuk memahami sejauh mana kurikulum di kembangkan di Indonesia. Karena itu pemahaman tentang kurikulum berbasis kompetensi penting untuk dikemukakan.

 

Terdapat 3 pendekatan yang dapat dikemukakan.

 

1)     Pendekatan yang berorientasi pada bahan (subject matter oriented).

Kurikulum dengan pendekatan ini cenderung mengabaikan perubahan dan perkembangan perilaku secara utuh kearah perubahan perilaku yang positif. Pendekatan ini bermanfaat untuk mengetahui tingkat pencapaian penguasaan materi pelajaran dan berpengaruh terhadap pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

2)      Pendekatan yang berorientasi pada tujuan (objective oriented).

 

Pendekatan ini menekankan arti pentingnya tujuan dalam penyelenggaraan pendidikan. Tujuan ini dalam prakteknya sering mengabaikan proses, sehingga kualitas proses pembelajaran adalah hal yang tidak disentuh. Namun pendidikan masih yakin pendekatan ini mampu memberi arah kemana akhir pendidikan akan di tuju.

 

3)      Pendekatan yang berorientasi pada kompetensi ( competencies based curriculum).

 

Pendekatan ini lebih menekankan pada penguasaan kompetensi pembelajaran. Selain itu pendekatan ini tidak mengabaikan proses, sebab proses dipahami sebagai bagian dari kompetensi yang akan dicapai dalam pembelajaran.

 

2.4 Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

Kurikulum berbasis kompetensi adalah suatu kurikulum yang ditunjukan untuk menciptakan tamatan yang kompeten dan cerdas dalam membangun identitas budaya dan bangsanya. Kompetensi yang dikembangkan berupa keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentukan, ketidakpastian, dan kerumitan-kerumitan dalam kehidupan.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004, adalah kurikulum dalam dunia pendidikan di Indonesia yang mulai diterapkan sejak tahun 2004 walau sudah ada sekolah yang mulai menggunakan kurikulum ini sejak sebelum diterapkannya. Secara materi, sebenarnya kurikulum ini tak berbeda dari Kurikulum 1994, perbedaannya hanya pada cara para murid belajar di kelas.

Dalam kurikulum terdahulu, para murid dikondisikan dengan sistem caturwulan. Sedangkan dalam kurikulum baru ini, para siswa dikondisikan dalam sistem semester. Dahulu pun, para murid hanya belajar pada isi materi pelajaran belaka, yakni menerima materi dari guru saja. Dalam kurikulum 2004 ini, para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTEK tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek, Dan setiap kegiatan siswa ada nilainya.

Sejak tahun ajaran 2006/2007, diberlakukan kurikulum baru yang bernama Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, yang merupakan penyempurnaan Kurikulum 2004. Dalam prakteknya kurikulum berbasis kompetensi ini memiliki prinsip-prinsip dalam pengembangan, Prinsip-prinsip tersebut adalah:

(1) Keseimbangan etika.

(2) Kesamaan memperoleh kesempatan.

(3) Memperkuat identitas nasional.

(4) Menghadapi abad pengetahuan.

(5) Menyongsong tangtangan teknologi informasi dan komunikasi.

(6) Mengembangkan keterampilan hidup.

(7) Mengintegrasikan unsure-unsur penting ke dalam kurikuler.

(8) Pendidikan alternative.

(9) Berpusat pada anak sebagai pusat pengetahuan.

(10) Pendidikan multicultural dan multi bahasa.

(11) Penilaian berkelanjutan dan komprehensif.

(12) pendidikan sepanjang hayat.

 

2.5 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Dalam Standar Nasional Pendidikan pasal 1 ayat 15 disebutkan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Kurikulum ini dikembangkan berdasarkan Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 1 dan dua. Kedua ayat tersebut adalah :

1)      Pengembangan kurikulum mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan Tujuan Pendidikan Nasional

2)      Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah sebuah kurikulum operasional pendidikan yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan di Indonesia. KTSP secara yuridis diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Penyusunan KTSP oleh sekolah dimulai tahun ajaran 2007/2008 dengan mengacu pada Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk pendidikan dasar dan menengah sebagaimana yang diterbitkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional masing-masing Nomor 22 Tahun 2006 dan Nomor 23 Tahun 2006, serta Panduan Pengembangan KTSP yang dikeluarkan oleh BSNP.

Pada prinsipnya, KTSP merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari SI, namun pengembangannya diserahkan kepada sekolah agar sesuai dengan kebutuhan sekolah itu sendiri. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus. Pelaksanaan KTSP mengacu pada Permendiknas Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL.

Standar isi adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Standar isi merupakan pedoman untuk pengembangan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang memuat:

  • kerangka dasar dan struktur kurikulum,
  • beban belajar,
  • kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dikembangkan di tingkat satuan pendidikan, dan
  • kalender pendidikan.

SKL digunakan sebagai pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran. Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati. Pemberlakuan KTSP, sebagaimana yang ditetapkan dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan SI dan SKL, ditetapkan oleh kepala sekolah setelah memperhatikan pertimbangan dari komite sekolah. Dengan kata lain, pemberlakuan KTSP sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, dalam arti tidak ada intervensi dari Dinas Pendidikan atau Departemen Pendidikan Nasional.

Penyusunan KTSP selain melibatkan guru dan karyawan juga melibatkan komite sekolah serta bila perlu para ahli dari perguruan tinggi setempat. Dengan keterlibatan komite sekolah dalam penyusunan KTSP maka KTSP yang disusun akan sesuai dengan aspirasi masyarakat, situasi dan kondisi lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Mulyana (2006), menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang perlu di[ahami dalam kaitannya dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan, hal tersebut adalah:

1)      KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, serta social budaya masyarakat setempat dan peserta didik.

2)      Sekolah dan Komite Sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supersi dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang bertanggungjawab di bidang pendidikan.

3)      Kurikulum tingkat satuan pendidikan untuk setiap program studi di perguruan tinggi dikembangkan dan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

KTSP merupakan strategi pengembangan kurikulum untuk mewujudkan sekolah efektif, produktif, dan berprestasi. Kurikulum ini secara subtansial juga merupakan paradigm baru pengembangan kurikulum, yang memberikan otonomi luas pada setiap satuan pendidikan, dan pelibatan masyarakat dalam rangka mengefektifkan proses belajar mengajar di sekolah. Otonomi ini diberikan agar setiap satuan pendidikan dan sekolah memiliki keleluasaan dalam mengelola sumber daya, sumber dana, sumber belajar dan mengalokasikannya sesuai prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.

Kurikulum tingkat satuan pendidikan adalah juga suatu ide tentang pengembangan kurikulum yang ditetapkan pada posisi yang paling dekat dengan pembelajaran, yakni sekolah dan satuan pendidikan. Pemberdayaan sekolah dan satuan pendidikan dengan memberikan otonomi yang lebih besar, di samping menunjukan sikap tanggap pemerintah terhadap tuntutan masyarakat juga merupakan sarana peningkatan kualitas, efesiensi, dan pemerataan pendidikan. Kurikulum ini juga merupakan salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah dan satuan pendidikan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, tuntutan dan kebutuhan masing-masing.

Otonomi dalam pengembangan kurikulum dan pembelajaran merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja guru dan staf sekolah, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pamahaman masyarakat terhadap pendidikan, khususnya kurikulum.

Dalam system kurikulum tingkat satuan pendidikan ini sekolah memiliki full authority and responsibility dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan visi, misi dan tujuan satuan pendidikan. Untuk mewujudkan visi, misi, dan tujuan tersebut, sekolah dituntut mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indicator kompetensi, mengembangkan strategi, menentukan prioritas, mengendalikan pemberdayaan berbagai potensi sekolah dan lingkungan sekitar, serta mempertanggungjawabkannya kepada masyarakat dan pemerintah. Dalam KTSP pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, serta komite Sekolah dan Dewan Pendidikan.

Perlu diketahui bahwa Dewan Pendidikan adalah lembaga yang ditetapkan berdasarkan musyawarah dari pejabat daerah setempat, komisi pendidikan pada DPRD, pejabat pendidikan derah, kepala sekolah, tenaga pendidikan, peerwakilan orang tua peserta didik, dan tokoh masyarakat.

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Kurikulum

Indonesia termasuk Negara yang selalu melakukan evaluasi terhadap kurikulum pendidikan, karena itu pergantian kurikulum terjadi di hamper setiap decade. Perubahan kurikulum secara garis besar dapat digolongkan dalam dua model perubahan kurikulum. Pertama, perubahan sebagian dalam kurikulum, dan kedua, perubahan total.

Dikatakan perubahan sebagian, karena adanya perubahan salah satu komponennya yang berbeda dengan kurikulum sebelumnya misalnya:

1)   Perubahan tujuan yang tidak sesuai dengan tututan perkembangan ilmu; pekembangan masyarakat dan zaman;

2)   Perubahan isi atau perubahan sistem penilaian

Adapun perubahan total terjadi apabila seluruh system dan komponen kurikulum berbeda dengan kurikulum sebelumnya misalnya, kerikulum 1968 menjadi kurikulum 1975 atau kurikulum 1984 menjadi kurikulum 1994 dan kurikulum berbasis kompetensi 2004 menjadi kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya perubahan kurikulum tersebut, yaitu karena:

  1. Keluasan dan pemerataan kesempatan belajar
  2. Upaya peningkatan mutu pendidikan
  3. Memperhatikan relevansi mutu pendidikan
  4. Persoalan efektivitas dan efesiensi pendidikan
  5. Perubahan paradigm pendidikan
  6. Perkembangan zaman
  7. Perubahan sistem penilaian
  8. Upaya peningkatan mutu pendidikan

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s