MAKALAH

 EVALUASI PENGAJARAN

 

“Tugas ini dibuat untuk memenuhi UjianTengah Semester”

Nama             : Dwi Mega A. F

No. Reg         : 6315053632

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2011

Penilaian

Penilaian merupakan proses sistematis meliputi pengumpulan informasi ( angka, deskripsi verbal ), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan.

Penilaian adalah “suatu proses untuk mengambil keputusan dengan cara menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan test maupun non test”. ( Asmaw Zainul dan Noehi Nasution ).

Berdasarkan artikel Mogens Niss, terdapat tiga tujuan utama dari penilaian, antara lain:

  1. Untuk menyediakan informasi.
  2. Membentuk  rencana tindakan dan,
  3. Membentuk  relaitas sosial.

Tujuan utama dari sebuah penilaian adalah untuk mengumpulkan informasi yang nantinya akan digunakan untuk membantu siswa dalam meningkatkan atau mengembangkan kemampuan mereka. Kemudian tujuan berikutnya adalah untuk membentuk rencana tindakan, hasil dari penilaian (informasi) digunakan sebagai landasan untuk memodifikasi, mengubah atau mempertahankan sistem pendidikan, institusi, guru dan cara mengajar guru serta kurikulum yang digunakan. Kemudian tujuan terakhir adalah membentuk realitas sosial, ketika penilaian dilakukan maka biasanya akan terjadi perubahan dalam tindakan dan kegiatan dari lingkungan (siswa, guru, orang tua, sekolah dan lainnya).

Dalam penerapannya penilaian dilakukan dengan berbagai cara dan menggunakan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi ( rangkaian kemampuan ) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan sebaik apa hasil dan prestasi belajar peserta didik dan hasil penilaian dapat berupa :

  1. Nilai Kualitatif ( Pernyataan naratif dalam kata-kata )
  2. Nilai Kuantitatif ( Berupa angka )

Secara khusus, dalam konteks pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik atau perbaikkan proses belajar mengajar dan menentukan hasil akhir dari sebuah proses penilaian yaitu kenaikkan kelas.

Tujuan penilaian :

1)      Untuk memberikan informasi kemajuan hasil belajar siswa secara individu dalam mencapai tujuan sesuai dengan kegiatan belajar yang dilakukan.

2)      Informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan belajar mengajar lebih lanjut, dan digunakan untuk mengetahui kemampuan peserta didik.

3)      Memberikan motivasi belajar siswa, menginformasikan kemauannya agar menjadi umpan melakukan usaha perbaikkan.

4)      Memberi informasi tentang semua kemajuan siswa.

5)      Member bimbingan yang tepat untuk mengarahkan keterampilan, minat dan kemampuannya.

 

Penilaian Berbasis Kompetensi

Penilaian berdasarkan kriteria yang mengacu pada kompetensi, menjawab seberapa bauk unjuk kerja siswa.

Penilaian berbasis kompetensi atau yang dikenal sebagai ( Competency Based Training ) baik dalam perancangan, penyusunan dan pelaksanaan di lapangan dan sistem penilaian hasil belajar yang digunakan penilaian berbasis kompetensi ( Competency Based Assesment ), penilaian berbasis kompetensi ini mencangkup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta didik, yang dalam pelaksanaannya dilakukan sesuai prosedur dan mekanismenya yang telah ditetapkan.

Penilaian pada aspek pengetahuan dimaksudkan untuk mengetahui penggunaan pengetahuan dalam pemecahan masalah yang berhubungan dengan kompetensi, sub-kompetensi dan criteria unjuk kerja. Tujuan utama penilaian ini adalah :

 

  1. Untuk meningkatkan pembelajaran dan pengajaran.
  2. Memberikan motivasi kepada peserta didik.
  3. Mendiagnosa kemampuan siswa.
  4. Meningkatkan efektivitas pengajaran.

Penilaian pada aspek keterampilan dimaksudkanuntuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam mendemonstrasikan pemahaman dan pengaplikasian pengetahuan yang mendalam serta keterampilan berbagai macam konteks tugas dan situasi sesuai dengan kompetensi, sub-kompetensi dan criteria unjuk kerja. Guna melakukan penilaian pada aspek ini ada setidaknya tujuh criteria yang harus diperhatikan, yaitu :

  1. Generability
  2. Authenticity
  3. Multiplefoci
  4. Teachability
  5. Fairness
  6. Feasibility
  7. Scorability

Penilaian pada aspek sikap maksudnya untuk mengetahui sikap peserta didik dalam berbagai aspek, diantaranya :

  1. Sikap terhadap mata pelajaran
  2. Sikap terhadap guru mata pelajaran
  3. Sikap terhadap kegiatan proses pembelajaran materi dari pokok-pokok bahasan.

Proses penilaian dalam ketiga aspek tersebut dilaksanakan berdasarkan penilaian berbasis kelas, penilaian berkala ( akhir kompetensi, akhir level kualifikasi, akhir pendidikan ).

 

 

 

Penilaian Kelas

Penilaian kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah bukti untuk membuat keputusan tentang pencapaian hasil belajar atau kompetensi siswa.

Penilaian kelas merupakan suatu kegiatan guru yang terkait dengan pengambilan keputusan tentang pencapaian kompetensi atau hasul belajar peserta didik yang mengikuti proses pembelajaran, dan Penilaian kelas merupakan proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi melalui sejumlah bukti yang menunjuk pencapaian hasil belajar peserta didik, penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti :

  1. Penilaian unjuk kerja ( performance )
  2. Penilaian sikap
  3. Penilaian tertulis ( paper and pencil test )
  4. Penilaian melalui hasil kelompok peserta didik
  5. Penilaian diri

Dalam penilaian berbasis kelas memiliki ciri-ciri, yaitu :

  1. Belajar tuntas

Belajar tuntas ( mastery learning ) adalah pendekatan pembelajaran berdasarkan pandangan filosofi bahwa seluruh peserta didik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat. Dalam pelaksanaannya peserta didik memulai belajar dari topik yang sama dan pada waktu yang sama pula, perlakuan awal belajar siswa juga sama, siswa yang tidak dapat menguasai seluruh materi pada topik yang dipelajarinya mendapat pelajaran tambahan sehingga mencapai hasil yang sama dengan kelompoknya. Siswa yang telah tuntas mendapat pengayaan sehingga mereka pun memulai mempelajari topik baru bersama-sama dengan kelompok kelas. Ketuntasan belajar yakni pencapaian taraf penguasaan minimal yang ditetapkan bagi setiap kompetensi secara perorangan, pendekatan dalam pembelajaran yang mempersyaratkan peserta didik menguasai secara tuntas.

  1. Otentik

Penilaian otentik : Proses pengumpulan bukti dan pendokumentasian hasil belajar dan perkembangan siswa dalam konteks yang otentik ( situasi nyata ).

  1. Berkesinambungan

Seluruh hasil belajar peserta didik (hasil tes, hasil tugas perorangan, hasil praktikum atau hasil pekerjaan rumah) dicatat dan diorganisir secara sistematik yang berfungsi sebagai alat untuk mengetahui kemajuan kompetensi yang telah dicapai peserta didik dan mendiagnosis kesulitan belajar peserta didik, memberikan umpan balik untuk kepentingan perbaikan dan penyempurnaan kegiatan belajar mengajar. Kumpulan hasil pekerjaan peserta didik dapat berupa puisi, gambar/tulisan, peta/denah, desain, paper, laporan observasi, laporan penelitian, laporan penyeledikan, dan lain sebagainya.

  1. Berdasarkan acuan kriteria atau patokan

Dalam melakukan penilaian hasil belajar, yaitu penilaian yang mengacu kepada norma (Penilaian Acuan Norma atau norm-referenced assessment) dan penilaian yang mengacu kepada kriteria (Penilaian Acuan Kriteria atau criterion referenced assessment). Perbedaan kedua pendekatan tersebut terletak pada acuan yang dipakai. Pada penilaian yang mengacu kepada norma, interpretasi hasil penilaian peserta didik dikaitkan dengan hasil penilaian seluruh peserta didik yang dinilai dengan alat penilaian yang sama. Jadi hasil seluruh peserta didik digunakan sebagai acuan. Sedangkan, penilaian yang mengacu kepada kriteria atau patokan, interpretasi hasil penilaian bergantung pada apakah atau sejauh mana seorang peserta didik mencapai atau menguasai kriteria atau patokan yang telah ditentukan. Kriteria atau patokan itu dirumuskan dalam kompetensi atau hasil belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi.

 

  1. Menggunakan berbagai cara dan alat penilaian

Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut dan penilaian juga diberikan terhadap penguasaan materi oleh peserta didik, baik yang bersifat koqnitif, psikomotorik maupun afektif. Bentuk tes untuk penilaian berupa tes tertulis, tes lisan dan tes psikomotor. Cara Penilaian adalah menggunakan sistem penilaian standar mutlak atau penilaian acuan patokan yaitu penilaian yang diacukan kepada tujuan instruksional yang harus dikuasai oleh peserta didik.

Cara penilaian hasil belajar peserta didik perlu memperhatikan prinsip-prinsip penilaian sebagai berikut:

  1. Valid/sahih
    Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukurpencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi(standar kompetensi dan kompetensi dasar) dan standar kompetensi lulusan. Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi.
  2.  Objektif
    Penilaian hasil belajar peserta didik hendaknya tidak dipengaruhi oleh subyektivitas penilai, perbedaan latar belakang agama, sosial-ekonomi, budaya, bahasa, gender,dan hubungan emosional.
  3. Transparan/terbuka
    Penilaian hasil belajar oleh pendidik bersifat terbuka artinyaprosedur penilaian, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan terhadap hasil belajar peserta didik dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.
  4. Adil
    Penilaian hasil belajar tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status
    sosial ekonomi, dan gender.
  5. Terpadu
    Penilaian hasil belajar oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
  6. Menyeluruh dan berkesinambungan
    Penilaian hasil belajar oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
  7.  Bermakna
    Penilaian hasil belajar oleh pendidik hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti, bermanfaat, dan dapat ditindaklanjuti oleh semua pihak, terutama guru, peserta didik, dan orangtua serta masyarakat.
  8.  Sistematis
    Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
  9. Akuntabel
    Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
  10.  Beracuan kriteria
    Penilaian hasil belajar oleh pendidik didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

Agar dapat tercapai kriteria atau acuan dalam penilaian kelas :

  1. Lihat kompetensi pada kurikulum.
  2. Alat penilaian sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
  3. Ketika penilaian berlangsung pertimbangkan kondisi anak.
  4. Petunjuk pelaksanaan jelas, gunakan bahasa yang mudah dipahami.
  5. Kriteria penyekoran jelas.
  6. Gunakan berbagai cara dan alat untuk nilai beragam kompetensi.
  7. Lakukan rangkaian aktivitas penilaian melalui: pemberian tugas, PR, ulangan, pengamatan, dsb

 

Ketuntasan Belajar

Konsep ketuntasan belajar didasarkan pada konsep pembelajaran tuntas. Pembelajaran tuntas merupakan istilah yang diterjemahkan dari istilah“mastery Learning”. Nasution, S (1982: 36) menyebutkan bahwa mastery learning atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh. Penguasaan penuh ini dapat dicapai apabila siswa mampu menguasai materi tertentu secara menyeluruh yang dibuktikan dengan hasil belajar yang baik pada materi tersebut. Nasution, S (1982: 38) juga menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi penguasaan penuh, yaitu: (1) bakat untuk mempelajari sesuatu, (2) mutu pengajaran, (3) kesanggupan untuk memahami pengajaran, (4) ketekunan, (5) waktu yang tersedia untuk belajar. Kelima faktor tersebut perlu diperhatikan guru, ketika melaksanakan pembelajaran tuntas. Sehingga siswa dapat mencapai ketuntasan belajar sesuai kriteria yang telah ditetapkan.

 

lock, James H. (1971: 62) menyatakan bahwa mastery learning dapat memberikan semangat pada pembelajaran di sekolah dan dapat membantu mengembangkan minat dalam pembelajaran tersebut. Pembelajaran yang berkesinambungan ini harus menjadi tujuan utama dalam pendidikan yang modern. Ciri-ciri pembelajaran tuntas antara lain: (1) pendekatan pembelajaran lebih berpusat pada siswa (child center), (2) mengakui dan melayani perbedaan-perbedaan perorangan siswa (individual personal), (3) strategi pembelajaran berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress), (4) pembelajaran dipecah-pecah menjadi satuan-satuan (cremental units) (KTSP SDN Sumberkembar 02, 2007).

 

Dalam pembelajaran tuntas seorang siswa yang dapat mempelajari unit pelajaran tertentu dapat berpindah ke unit satuan pelajaran berikutnya jika siswa yang bersangkutan telah menguasai secara tuntas sesuai standar ketuntasan belajar minimal yang telah ditentukan oleh sekolah. Dalam pembelajaran tuntas terdapat dua layanan yang diberikan pada siswa, yaitu layanan program remedial dan layanan program pengayaan. Pertama, layanan program remedial dilaksanakan dengan cara: (a) memberikan bimbingan secara khusus dan perorangan bagi siswa yang mengalami kesulitan, (b) memberikan tugas-tugas atau perlakuan secara khusus yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran reguler, (c) materi program remedial diberikan pada Kompetensi Dasar (KD) yang  belum dikuasai siswa, (d) pelaksanaan program remedial dilakukan setelah siswa mengikuti tes/ujian semester.

 

Kedua, layanan program pengayaan dilaksanakan dengan cara: (a) memberikan bacaan tambahan atau diskusi yang bertujuan untuk memperluas wawasan yang masih dalam lingkup seputar KD yang dipelajari, (b) pemberian tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/paragraf dan lainnya, (c) memberikan soal-aoal latihan tambahan yang bersifat pengayaan, (d) membantu guru dalam rangka membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan, (e) materi pengayaan diberikan sesuai dengan KD yang dipelajari, (f) program pengayaan dilaksanakan setelah mengikuti tes/ujian KD tertentu atau tes/ujian semester. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tuntas menjadi dasar dari konsep ketuntasan belajar. Sehingga guru diharapkan menerapkan pembelajaran tuntas dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan pembelajaran tuntas, siswa dapat mencapai kriteria ketuntasan belajar yang ideal.

 

Ketuntasan belajar merupakan salah satu muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Standar ketuntasan belajar siswa ditentukan dari hasil prosentase penguasaan siswa pada Kompetensi Dasar dalam suatu materi tertentu. Kriteria ketuntasan belajar setiap Kompetensi Dasar berkisar antara 0-100%. Menurut Departemen Pendidikan Nasional, idealnya untuk masing-masing indikator mencapai 75%. Sekolah dapat menetapkan sendiri kriteria ketuntasan belajar sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, sekolah perlu menetapkan kriteria ketuntasan belajar dan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara berkelanjutan sampai mendekati ideal.

Program remedial

Pelaksanaan Program Remedial  dapat ditempuh dengan cara :

Masalah utama yang akan selalu timbul dalam pelaksanaan pembelajaran tuntas adalah “bagaimana guru menangani peserta didik yang lamban atau mengalami kesulitan dalam menguasai KD tertentu”.
Ada 2 cara yang dapat ditempuh yaitu:

  • Pemberian bimbingan secara khusus dan perorangan bagi peserta didik yang belum atau mengalami kesulitan dalam penguasaan KD tertentu. Cara ini merupakan cara yang mudah dan sederhana untuk dilakukan karena merupakan implikasi dari peran guru sebagai “tutor”.
  • Pemberian tugas-tugas atau perlakuan (treatment) secara khusus, yang sifatnya penyederhanaan dari pelaksanaan pembelajaran regular.

 

Bentuk penyederhanaan itu dapat dilakukan guru antara lain melalui:

  • Penyederhanaan strategi pembelajaran untuk KD tertentu
  • Penyederhanaan cara penyajian (misalnya: menggunakan gambar, model, skema, grafik, memberikan rangkuman yang sederhana, dll.)
  • Penyederhanaan soal/pertanyaan yang diberikan.
  • Materi dan waktu pelaksanaan program remedial
  • Program remedial diberikan hanya pada KD atau indikator yang belum tuntas.
  • Program remedial dilaksanakan setelah mengikuti:
  • tes/ulangan KD tertentu
  • tes/ulangan sejumlah KD dalam satu kesatuan

 

Program remedial merupakan salah satu bentuk kegiatan perbaikan yang dilakukan untuk mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar,yang memerlukan bantuan akibat adanya kesulitan,kekurangan,kelemahan atau kegagalan dalam pembelajaran. Dalam program remedial ini, paling tidak seorang guru harus melihat fakta yang menunjukkan penyimpangan dari hal-hal biasa, berusaha, mencari sebab-sebab yang memungkinkan siswa tertinggal atau mendapatkan kesultan belajar,berusaha mengurangi ketertinggalan, serta memperbaikinya.

Usaha perbaikan ini dilakukan dengan lebih mudah jika memggunakan alat-alat atau teknik,baik berupa teknik observasi,angket,wawancara,meneliti ulang siswa yang memiliki tugas kelompok,penggunaan buku rapor,kunjungan ke rumah siswa,penelitian kesehatan siswa,maupun penggunaan tes psikologi. Kemampuan seorang guru dalam mengadakan program perbaikan ditentukan oleh berbagai factor,baik factor guru yang memberikan program perbaikan maupun minat dan kemauan sioswa yang mengikuti program ini.Semakin besar kemauan dalam menyelesaikan persoalan kesulitan belajar ini,maka semakin dapat diharapkan bahwa program remedial yang dilakukan akan berjalan dengan efektif dan efisien.
Diharapkan kehadiran buku ini bisa menambah wawasan para pendidik,serta wawasan bagi generasi muda yang berkualitas dimasa mendatang.

Langkah-langkah :

 

  1. Tatap muka dengan guru
  2. Belajar sendiri → dinilai
  3. Kegiatan: menjawab pertanyaan, membuat rangkuman, mengerjakan tugas, mengumpulkan data.
  4. Pada atau di luar jam  efektif

 

Program Pengayaan

Pelaksanaan Program Pengayaan dapat ditempuh dengan cara :

Kondisi yang sebaliknya dari program remedial, dalam kelas yang menerapkan pembelajaran tuntas adalah akan selalu ada peserta didik yang lebih cepat menguasai kompetensi yang ditetapkan. Peserta didik inipun tidak boleh diterlantarkan. Mereka perlu mendapatkan tambahan pengetahuan maupun keterampilan sesuai dengan kapasitasnya, melalui program pengayaan. Cara yang dapat ditempuh di antaranya adalah:

  • Pemberian bacaan tambahan atau berdiskusi yang bertujuan memperluas wawasan bagi KD tertentu
  • Pemberian tugas untuk melakukan analisis gambar, model, grafik, bacaan/paragraf, dll.
  • Memberikan soal-soal latihan tambahan yang bersifat pengayaan
  • Membantu guru dalam membimbing teman-temannya yang belum mencapai ketuntasan.

 

Materi dan waktu pelaksanaan program pengayaan

  1. Program pengayaan diberikan sesuai dengan KD-KD atau indikator yang dipelajari
  2.  Waktu pelaksanaan program pengayaan adalah setelah mengikuti:
  • tes/ulangan KD tertentu
  • tes/ulangan kesatuan KD tertentu
  • tes/ulangan KD-KD pada akhir semester tertentu. Khusus untuk program pengayaan yang dilaksanakan pada akhir semester ini materinya hanya yang berhubungan dengan KD-KD yang terkait.

 

Perbaikan Program & Kegiatan

Kegiatan perbaikan pula bisa dilihat dari penggunaan instrument yang digunakan apakah sudah tepat atau belum sesuai. Kalau instrument yang digunakan adalah salah maka perlu ada perbaikan. Instrumen yang digunakan apakah menggunakan intrumen tes, kuesioner, observasi, wawancara, laporan, ceklis, dan alat-alat ukur lainnya. Kalau dalam menggunakan instrument ada kesalahan tentunya data yang dikumpulkan pun akan menemui kekeliruan yang membuat program tersebut gagal. Apabila instrument yang digunakan tidak tepat, maka.data kualitatif atau data kuantitatif yang dikumpulkan pun akan salah. Oleh karena itu kegiatan perbaikan pun perlu dilihat juga dari segi perolehan data.

 

Untuk lebih memudahkan dalam memahami kajian tentang perbaikan program ini, Anda perlu mengerti definisi perbaikan dan program, agar anda dapat memahami modul ini dengan baik. Perbaikan adalah suatu upaya untuk meningkatkan, mengembangkan, memperluas atau menghentikan suatu kegiatan yang dilaksanakan agar mencapai sasaran yang sesuai dengan tujuan yang tetapkan (Joan L Herman & Cs, 1987,. Farida Y Tayibnafis, 2000).

 

Program adalah segala sesuatu yang dicoba lakukan seseorang dengan harapan akan mendatangkan hasil atau pengaruh (Joan L Herman & Cs, 1987, Evaluator’s Handbook). Lebih lanjut Farida Y T (2000) mengemukakan bahwa suatu program mungkin saja sesuatu yang berbentuk nyata (tangible) seperti materi kurikulum, atau yang abstrak (intangible) seperti prosedur, misalnya distribusi biaya hidup, jadwal 4 hari lokakarya, atau sederetan kegiatan untuk meningkatkan sikap terhadap P4, dan Bila anda mengevaluasi suatu program, Anda secara teratur (sistematik) mengumpulkan informasi tentang bagaimana program itu berjalan, tentang dampak yang mungkin terjadi, atau untuk menjawab pertanyaan yang diminati. Kadang-kadang informasi yang dikumpulkan digunakan untuk membuat keputusan tentang program itu misalnya bagaimana memperbaiki program, apakah akan diperluas atau dihentikan.

 

Kadang-kadang informasi hanya berpengaruh secara tidak langsung terhadap keputusan, atau mungkin juga tidak dihiraukan sama sekali karena merugikan pemimpin. Terlepas dari bagaimana akhir penggunaannya suatu evaluasi program harus mengumpulkan informasi valid, informasi yang dapat dipercaya, informasi yang berguna untuk program yang dievaluasi.

 

Pelaporan

Pelaporan hasil belajar yang dilakukan oleh guru atas perkembangan pembelajaran siswa berupa raport. Raport adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester. Laporan prestasi mata pelajaran berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Laporan disajikan dalam bentuk yang lebih rinci agar orangtua dapat mengetahui hasil belajar anaknya dalam menguasai kompetensi mata pelajaran. Disamping itu, ada catatan guru tentang pencapaian kompetensi tertentu sebagai masukan kepada anak dan orang tuanya untuk membantu kinerjanya. Nilai pada raport merupakan gambaran kemampuan peserta didik karena itu kedudukan atau bobot nilai harian dan nilai sumatif (nilai akhir semester) sama.

Nilai sumatif merupakan kumpulan nilai harian yang terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, serta indikator-indikator hasil belajar. Nilai laporan hasil belajar per semester merupakan nilai kumulatif dari hasil pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar selama siswa mengikuti pembelajaran pada semester yang terkait yang diperoleh melalui ujian lisan, tertulis, wawancara, kuis, praktik, tugas-tugas dan lainnya serta hasil remidial.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s